Mengenal Suku Baduy

Standard

Budaya Suku Baduy

Budaya Suku Baduy

Suku Baduy adalah suatu kelompok masyarakat adat Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Sebutan “Baduy” merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai  urang Kanekes atau “orang Kanekes” sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti  Urang Cibeo (Garna, 1993).

Hawa segar dan keindahan alami yang sulit dinikmati di perkotaan, bisa dirasakan bersama matahari yang mulai mengintip dari sela-sela dedaunan. Hanya kokok ayam jantan yang menyapa, tak ada suara radio atau televisi yang terdengar.
Di lereng Pegunungan Kendeng Propinsi Banten itulah Suku Baduy menetap dan bermasyarakat. Kehidupan masyarakatnya yang masih bercocok tanam secara alami dan tradisional, jauh dari modernitas jaman. Namun, Suku Baduy percaya bahwa semua yang mereka kerjakan sudah cukup untuk mereka sendiri. Kepercayaan mereka adalah Sunda Wiwitan, mereka tidak mengenal sekolah dan huruf yang mereka kenal adalah Aksara Hanacara dan bahasanya Sunda.
Seorang Jaro (Pimpinan Adat) menjadi palang pintu memasuki gerbang wilayah suku Baduy. Namun bukan berarti Suku Baduy mengisolasikan diri secara ekstrim. Wilayah Baduy sudah terpecah menjadi dua, yakni Baduy Dalam dan Baduy Luar. Baduy Dalam masih memegang teguh pranata sosial dan adat setempat. Mereka juga belum terkontaminasi dengan dunia luar.
Sedangkan Baduy Luar, sudah lebih membuka diri dengan dunia luar dan anggota masyarakatnya berani keluar dari komunitasnya untuk berbagai kegiatan. Wilayah Baduy luar sekarang berjumlah 54 kampung, yang sudah banyak berbaur dengan masyarakat Sunda lainnya. Baduy luar atau biasa mereka menyebutnya Urang Panamping. Cirinya, selalu berpakaian hitam dengan ikat kepala warna hitam bermotif biru. Umumnya orang
Baduy luar sudah mengenal kebudayaan luar (diluar dari kebudayaan Baduy-nya sendiri)
seperti mendengarkan radio, sebagian masyarakatnya sudah bisa membaca dan menulis, bisa berbahasa Indonesia. Mata pencaharian mereka bertani.
Sedangkan masyarakat Baduy Dalam memiliki pakaian khas berwarna putih dengan celana hitam serta ikat kepala berwarna putih. Sedangkan wanita baik di Baduy dalam maupun luar memiliki ciri pakaian yang hampir sama berupa kebaya ‘Karempong’. Wilayah Baduy Dalam meliputi Cikeusik, Cibeo, dan Cikartawarna. Nama Baduy sendiri diambil dari nama sungai yang melewati wilayah itu sungai Cibaduy.

Selain padi, gula aren dan madu khas Baduy adalah hasil pertanian andalan mereka. Hasil
pertanian mereka berupa beras bisanya mereka simpan di lumbung padinya (Leuit) yang ada di setiap desa. Selain beras meraka juga membuat kerajinan tangan seperti Tas Koja  yang bahannya terbuat dari kulit kayu yang di anyam, Gelang tangan, cincin khas Baduy. Disamping itu mereka membuat kainnya sendiri sebagai bahan pakaian dan ikat kepala dengan cara menenun.
Tidak sembarang orang bisa masuk ke wilayah suku Baduy Dalam.  Untuk mencapai wilayahnya diperlukan penunjuk jalan dan ijin dari pimpinan adatnya serta harus mematuhi ketentuan yang berat seperti di larang membawa kamera. Masyarakat Baduy Dalam terkenal teguh dalam tradisinya. Mereka selalu berpakaian warna putih dengan kain ikat kepala serta golok. Semua perlengkapan ini mereka buat sendiri dengan tangan. Pakaian mereka tidak berkerah dan berkancing, mereka juga tidak beralas kaki.
Mereka tidak boleh mempergunakan peralatan atau sarana dari luar. Jadi bisa ibayangkan mereka hidup tanpa menggunakan listrik, uang, dan mereka tidak mengenal sekolahan. Salah satu contoh sarana yang mereka buat tanpa bantuan dari peralatan luar adalah jembatan bambu. Jembatan ini dibuat tanpa menggunakan paku, untuk mengikat batang bambu mereka menggunakan ijuk, dan untuk menopang pondasi jembatan digunakan pohon-pohon besar yang tumbuh di tepi sungai.
Suku Baduy, suku yang masih tersisa di abad ini yang masih mempertahankan  kehidupannya untuk tetap dekat dan bersahabat dengan alam. Membangun sebuah masyarakat yang damai, makmur dan sejahtera tanpa harus bersentuhan dengan dunia luar yang berpacu dengan modernitas dan kemajuan jaman. Referensi : caritatour.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s