Empat Bulan Sampah di Tangsel Tak Terurus

Standard

SERPONG – Masalah sampah ternyata masih jadi masalah utama di Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Hampir empat bulan lamanya, ribuan kubik sampah teronggok begitu saja.

Bahkan di sepanjang jalan nasional dan jalan provinsi di wilayah kota otonom baru itu, sampah dibiarkan berserakan dan bertumpuk hingga menggunung setinggi 2 sampai 3 meter. Hal ini terjadi karena Kota Tangsel belum miliki Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang berfungsi maksimal karena selama ini sampah dibuang ke TPA Jatiwaringin yang berada di wilayah Kabupaten Tangerang.
Pemandangan demikian bisa disaksikan di Pasar Ciputat, Pasar Serpong, Pasar Jombang hingga perumahan dan permukiman warga.
“Sejak Januari hingga awal April kita belum punya solusi yang terbaik menanggulangi sampah,”kata Penjabat Walikota Tangsel M Shaleh, Minggu (11/4).
Persoalan sampah di Kota Tangsel bermula setelah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang memutus kontrak kerjasama dan melarang ribuan kubik sampah di daerah pemekaran baru itu dibuang ke TPA Jatiwaringin di wilayah Kabupaten Tangerang sejak awal Januari 2010.
Shaleh mengatakan, pihaknya sudah melakukan berbagai upaya menanggulangi persoalan sampah dengan mengontrak mesin sistem pengolahan sampah terpadu (Sipesat). Namun kenyataannya mesin pengolahan sampah itu tidak maksimal pengoperasiannya. Sementara 32 truk sampah yang sebelumnya beroperasi di Tangsel telah ditarik oleh Pemkab Tangerang dan hingga kini belum ada penggantinya.
Oleh karena itu, Kota Tangsel hanya mengandalkan sepuluh truk sampah yang dibeli dari dana hibah tak mampu untuk mengangkut 6.000 kubik sampah yang dihasilkan dalam satu hari di Kota Tangsel.
Dikatakan Shaleh, pihaknya sudah mengupayakan kerjasama dengan pihak kedua untuk mengoperasikan mesin sampah terbaru. Mesin tersebut sedang diupayakan agar bisa ditempatkan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang, Kecamatan Setu, Tangsel hingga TPA itu bisa berfungsi maksimal.
Terkait dengan penumpukan sampah di sejumlah pasar tradisional, Shaleh mewakili Pemkot Tangsel menolak disalahkan. Pemkot malah menuding Pemkab Tangerang sebagai pihak yang harus bertanggung jawab. Pasalnya, sejumlah pasar tradisional tersebut masih jadi aset Pemkab Tangerang karena dikelola PD Pasar Niaga Kerta Raharja Kabupaten Tangerang. (mg-06)Radar Banten.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s