Pengusaha Saling Tuding Makelar Proyek

Standard

SERPONG – Perseteruan akibat perebutan lelang alat kesehatan terus berlanjut. Para pengusaha saling mencurigai pihak lain bermain curang dan menjadi dalang sebagai makelar proyek dalam tender senilai Rp 30 miliar itu.

Pada proses tender yang berlangsung di Kecamatan Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Selasa (13/4) lalu, sempat terjadi pendobrakan pintu dan penggebrakan meja lelang . Bahkan, dalam insiden ini Ketua Asosiasi Pengusaha Jasa Konstruksi Indonesia (Aspekindo) Kota Tangsel Tatang Sago pun sempat dikejar massa hingga terjatuh. Ia dituding sebagai makelar proyek dan dalang kecurangan tender.
Mendapat perlakuan tersebut, Tatang Sago yang langsung meninggalkan lokasi lelang setelah kejadian menyatakan keberatannya. Pihaknya akan melakukan somasi terhadap pihak yang telah menudingnya sebagai makelar proyek dan biang keladi terhadap kecurangan proses tender. “Ini pencemaran nama baik. Saya akan somasi mereka yang telah menuding saya.
Tatang justru malah mengaku hanya sebagai korban dari makelar proyek lain yang telah memanfaatkannya. Keberadaannya, dalam proses lelang itu sebagai Ketua Aspekindo yang memantau anggotanya saat menjadi peserta tender agar tidak melakukan kerusuhan. “Eh para pengusaha lain malah mengira saya sebagai biang keladi kecurangan hingga dikejar-kejar,” ucapnya.
Selain akan melakukan somasi, Tatang juga mengimbau Pemkot Tangsel untuk melaporkan pihak yang telah melakukan pendobrakan pintu dan merusak meja lelang ke polisi. Tatang juga menyatakan, massa yang telah melakukan pengrusakan merupakan suruhan calo proyek berinisial DN. “DN yang memprovokasi massa melakukan pengrusakan. Itu namanya merusak aset pemerintah, perbuatan premanisme itu harus ditindak tegas. Kita siap jadi saksi,” tegasnya.
Terhadap kerusuhan lelang tersebut, Ketua Lembaga Independen Pemantau Aparatur Negara (Lipan) Andi Zainun meminta panitia lelang agar tender diulang dengan mengosongkan kembali kotak paket penawaran proyek. Ini agar tidak ada pihak yang dirugikan. Pihaknya juga menyayangkan tindakan premanisme terhadap Tatang Sago yang hanya menjadi korban.
Andi justru menyatakan, pihak yang menjadi makelar proyek dan dalang kecurangan tender adalah pengusaha bernama Buety Nasir (BN) yang telah melakukan pembagian paket proyek di Hotel Imperial, Lippo Karawaci, sebelum lelang berlangsung. “BN justru yang jadi dalangnya,” tudingnya.
Terpisah, Buety Nasir mengelak telah melakukan pembagian paket proyek. Dikatakannya, pihaknya hanya menengahi para pengusaha untuk berkompromi dalam tender sehingga tidak terjadi rebutan paket proyek. “Mana mungkin bisa bagi-bagi paket, sedangkan ketika itu tendernya belum berlangsung. Itu hanya kompromi antar pengusaha saja. Dan itu pun belum tentu bisa langsung menang tender, karena tetap harus bersaing dengan pengusaha lain yang ikut tender. Siapa yang bisa menjamin mereka bisa menang paket,” jelasnya kepada Radar Banten melalui telepon genggamnya. Saat dihubungi, Buety Nasir mengaku sedang mengikuti tender di Makasar, Sulawesi Tenggara, kemarin.
Buety malah menuding, kerusuhan tender tersebut karena keserakahan pihak tertentu yang ingin menguasai semua paket lelang, tanpa mau berbagi kepada rekan-rekan pengusaha lainnya. “Itu akibat keserakahan dan kemunafikan mereka sendiri,” ketusnya.
Wakil Ketua Bidang Usaha Kecil Menengah Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Banten itu juga menyatakan insiden pada proses tender tersebut karena kegagalan pimpinan Kadin seperti Muhammad Fauzi Siregar yang tidak bisa mengayomi para pengusaha. “Saya hanya menenangkan para pengusaha agar jangan rebutan paket, tapi dikompromikan saja. Saya bukan seperti pimpinan Kadin yang gagal seperti Fauzi Siregar. Baiknya, jangan cari kambing hitam, siapa pesuruh kerusuhan itu yang seharusnya dicari,” pungkasnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Lumbung Aspirasi Rakyat (LIRA) Provinsi Banten, Drajat Sumarsono meminta pertanggungjawaban dinas yang melaksanakan tender. Kericuhan terjadi kata Drajat, akibat Dinas yang melakukan lelang tidak mengacu pada Keppres Nomor 80 Tahun 2003. LIRA mengindikasikan ada permainan antara Dinas di Tangsel yang melaksanakan tender dengan para pengusaha. “ Ada indikasi pemenang tender sudah ditentukan. Pembukaan pendaftaran tender hanya sebatas seremoni. Karena itu juga, LIRA akan melakukan kajian APBD Tangsel dan Provinsi Banten, untuk melihat adanya indikasi KKN dalam pelaksanaan lelang,” tukasnya.
Ketua Pengadaan Barang dan Jasa Alat Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Tangsel Neng Ulfah saat hendak dikonfirmasi terkait kerusuhan yang diindikasikan karena ada kecurangan sedang tidak berada di kantornya. Radar Banten.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s