Makna di Balik Mudik Lebaran

Standard

mudik lebaran

mudik lebaran

Mudik atau pulang kampung menjelang Idul Fitri (Lebaran) sudah menjadi tradisi bangsa kita, yang mungkin sulit untuk dicari mulai kapan tradisi ini terjadi. Mungkin banyak dari kita bertanya-tanya mengapa banyak saudara-saudara kita yang rela berhimpit-himpitan atau membeli tiket dengan harga menjulang hanya demi tradisi pulang kampung di saat menjelang lebaran.

Di akhir bulan suci Ramadhan atau menjelang kedatangan Syawal di tahun Hijriah, ada kebiasaan kolektif bangsa kita yaitu mudik atau pulang ke kampung halaman. Orang yang biasa hidup dan bekerja di suatu daerah yang jauh dari tanah kelahiran, maka dia akan pulang ke kampung halaman, ke tempat asal usulnya bermula, termasuk mereka yang berada di luar negeri.Mudik telah menjadi ajang melepas rindu yang merupakan nilai-nilai primordialisme yang bersifat positif. Namun, karena tradisi mudik tahunan itu selalu identik dengan hadirnya Idul Fitri, maka maknanya tidak hanya sekadar peristiwa biologis yakni pelepasan rindu kampung halaman, melainkan juga memiliki makna ideologis atau spiritual.

Makna spiritual Hari Raya Idul Fitri sendiri adalah kembali ke kesucian diri, sedangkan secara etimologis, Idul Fitri bermakna “kembali berbuka”, kemudian secara substansial dimaknai kembali ke fitrah. Sebuah momentum pulang ke kampung rohani, yang bermakna kembali ke hati nurani, menemukan Allah di dalam diri sendiri. Artinya, rumah rohani kita sebetulnya ada di dalam diri.

Dalam pemaknaan ini, sesungguhnya yang harus mudik itu bukan dalam arti biologis saja, tetapi juga mudik spiritual. Perilaku seperti ini sebetulnya sangat alamiah atau dalam terminologi agama yakni sesuatu yang fitrah. Karena hewan juga melakukan hal yang sama yakni mengitari ruang dan waktu di dalam hidupnya, namun dalam periode tertentu dia akan kembali ke asalnya.

Selama ini tradisi mudik, misalnya, yang terjadi di Pulau Jawa saja, bias memobilisasi 30 juta orang. Selain itu, Lebaran merupakan peristiwa ekonomi yang tertinggi setiap tahun, karena peristiwa mudik itu dapat memberikan pemerataan ekonomi di seluruh Indonesia.
Dengan demikian mudik, sebenarnya memiliki arti ekonomi yang cukup strategis juga.

Ratusan miliar uang berputar selama H-7 sampai H+7 Lebaran. Mengalir dari kota, bahkan dari luar negeri, ke desa. Geliat ekonomi pedesaan spontan naik signifikan. Kebaikan dan kedermawanan seketika tumbuh dan berhamburan di desa. Kendati hanya bersifat sementara, redistribusi kemakmuran itu memiliki makna signifikan bagi kehidupan di pedesaan.

Redistribusi yang berlangsung rutin memberikan harapan bagi seluruh warga desa bahwa sekurangnya setahun sekali akan ada uang yang masuk dan membuka banyak peluang. Pedagang akan bersiap dengan stok dagangannya, penyedia jasa sudah bisa berhitung sekurangnya setiap tahun akan ada rezeki tambahan. Harapan sekecil itu, bagi masyarakat yang nyaris tak punya harapan, sangat berarti.

Kalau kemudian banyak orang melihat mudik yang mengiringi Idul Fitri menjadi semacam suatu pesta ritual tahunan yang sangat konsumtif. Dalam hal ini, secara sadar dan maksimal, harus terpikirkan dan terejawantahkan, bagaimana kita bisa menciptakan nilai plus mudik lebaran itu, terutama dalam makna spiritual, disamping bermakna sosial, budaya dan ekonomi (holistik) [Penulis : Achmad Munir]

Biarkan mereka bergembira dengan cara mereka sendiri di tanah kelahirannya, dengan melestarikan tradisi Mudik!!!

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431H,
Mohon Maaf Lahir dan Batin…..

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s